Solonian Nights

Saat berada di ibukota, begitu happening nya kebiasaan anak muda bergaul di minimarket-minimarket baik siang ataupun malam. Dan memang cukup diakui bahwa kebiasaan anak muda maupun para pekerja, mulai rajin menyambangi mini market tak cuma hanya membeli makanan kecil dan minuman ringan, tapi juga ngobrol, diskusi maupun nongkrong biasa. Memang fasilitas yang disediakan oleh mini market itu cukup mendukung aktivitas ini.

Minimarket mulai merubah jam kerjanya, yang mulanya cuma 12-15 jam, sekarang menjadi 24 jam. Makanan dan minuman ringan cukup bervariasi, bahkan tersedia makanan dan minuman siap saji. Minimarket menyediakan ruang cukup beserta meja kursi yang banyak untuk duduk-duduk. Lahan parkir yang luas membuat semua orang baik yang bermobil dan bermotor cukup leluasa. Yang tak kalah penting adalah akses internet gratis yang disediakan sehingga pengunjung cukup leluasa dalam berselancar di dunia maya. Inilah daya tarik kuat bagi pengunjung.

Bagaimana kehidupan lain di kota yang lain. Kalau Jakarta dikenal sebagai ibukota, kota megapolitan. Ada kehidupan kota lain, yaitu kota Solo, kota kecil di Jawa Tengah. Kota yang mempunyai slogan Spirit of Java, mencoba memposisikan diri sebagai kota warisan budaya di mata internasional. Dengan begitu, Kota Solo tidak memposisikan sebagai kota industri dan metropolitan, tetapi lebih mengedepankan seni dan budaya. Tentu saja arah jalan kota ini menentukan karakteristik kota dan pola kehidupan warga penghuninya.

Sebagai kota seni budaya, tentu saja kehidupan di kota Solo ini unik. Hampir di tiap sudut kota, terdapat warung HIK. Warung HIK tidak mempunyai fasilitas seperti di minimarket di Jakarta. Yang ditawarkan di warung HIK ini adalah nasi dengan wadah daun pisang dengan nama “sego kucing”, ada juga pisang goreng, tempe goreng dan gorengan lain. Lokasi sendiri hanya mengambil tempat di pinggiran jalan. Bentuknya pun cukup sederhana, hanya gerobak dorong dan kursi panjang untuk duduk pengunjung. Dan bahkan pemilik warung HIK cukup menyediakan lesehan beralas tikar untuk pengunjung bersantai. Cukup berbeda dibandingkan dengan minimarket.

Yang menjadi persamaan hanyalah aktivitas bersantai, makan, minum, dan mengobrol santai. Pengunjung warung HIK mau berlama-lama dalam bersantai, membicarakan hal-hal santai dari yang ringan hingga berat seperti politik. Pembicaraan pun mengalir begitu saja dengan tema yang berganti-ganti. Dan bahkan pemikiran-pemikiran sederhana muncul dari obrolan ini. Pemikiran ini disampaikan dari orang satu ke orang lain. Orang menyebutnya getok tular atau dalam bahasa lain berupa Word of Mouth. Ini cukup penting untuk tetap menggerakkan roda kehidupan. Dan kadang pun pemilik warung mempunyai TV kecil berukuran 10 inch untuk melihat pemberitaan di media. Selain TV juga ada radio lokal yang menyiarkan situasi daerah, kawasan, nasional hingga internasional. Pengunjung pun dengan mudah menanggapi situasi yang berkembang. Inilah obrolan warung kopi yang terkenal selama ini.

Itulah hal nyata yang ada di kota Solo. Yang saat ini memberikan salah satu warganya untuk berjuang jadi Presiden Indonesia. Salah satu bagian yang dulu membangun kota Solo yang kecil dengan mengedepankan bagian seni dan budayanya, nantinya akan menjadi orang yang memimpin negara dengan perkembangan multi sektor. Cukup menarik untuk ditunggu. 🙂

Advertisements

One response to “Solonian Nights

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s