Box to Box Living

Mungkin inilah karakter kota metropolitan. Kota yang menjadi pusat bisnis regional. Bahkan instansi pemerintahan pun menyatu dengan pusat bisnis ini. Beberapa perusahaan besar yang beroperasi menempatkan ibukota menjadi kantor pusatnya. Menjadi pusat kendali terhadap seluruh penyelenggaraan bisnisnya. Setali tiga uang, instansi pemerintah pun mengoperasikan peran sebagai penggerak kegiatan negara melalui ibukota.

Konsekuensinya pasti jelas terlihat:

gedung-gedung pencakar langit dibangun di setiap titik ibukota, tempat hiburan dan makan pun bermunculan dalam bentuk mall, karyawan dan pekerja memenuhi kemacetan jalan-jalan menuju kantornya, rumah-rumah warga tergusur dengan imbalan ganti rugi yang besar.

Yang tak kalah fenomena adalah bermunculannya gedung-gedung apartemen yang menyediakan rumah huni mungil bagi para pekerja di ibukota. Apartemen ini menjadi alternatif yang layak saat rumah huni semakin sulit terpenuhi karena harganya semakin mahal di ibukota. Rumah huni terjangkau di pinggiran kota sekitar ibukota. Kota-kota kecil ini menjadi satelit yang mengelilingi ibukota yang makin padat.

Kondisi ini makin berimbas setiap memasuki jam berangkat kerja. Puluhan ribu warga penghuni rumah di sekitaran kota satelit memadati jalanan menuju pusat kota. Jalan-jalan utama ke arah kota selalu penuh sesak. Kombinasi kendaraan umum, kendaraan pribadi, maupun sepeda motor beriringan memenuhi setiap jengkal jalan.

Pilihan kereta KRL cukup memuaskan. Tetapi tak cukup memenuhi kebutuhan seluruh pengguna kereta. Setiap gerbang penuh sesak.

Solusi?

Solusi yang pernah diusulkan dengan memindahkan pusat pemerintahan ke kota lain, seperti ke Kalimantan. Sehingga mengurangi beban Kota sebagai kota bisnis.

Monorel atau MRT mulai digelar proyeknya. Tapi sepertinya hanya mengurangi sedikit kepadatan.

Penyesuaian jam kerja karyawan. Dengan melakukan shifting jam kerja sehingga bisa membagi maupun memecah konsentrasi kemacetan.

Solusi terbaik adalah dengan memindahkan pusat pemerintahan. Ini butuh keberanian dan strategi yang detail sehingga tidak menimbulkan chaos.

Selama kondisi seperti ini masih berlangsung, makin banyak orang metropolitan yang bakal hidup dari kotak apartement satu ke apartement yang lain. Dan bahkan apartement-apartemen baru semakin menjamur. Memberikan jawaban dari tantangan atas peluang bisnis yang menggiurkan. Bakal betah kah mereka yang membiasakan diri dalam box to box living. Hidup dalam sebuah sangkar sederhana seukuran mulai 18 meter persegi hingga 60 meter persegi. Tanpa bisa merasakan bercocok tanam, menumbuhkan tanaman di atas tanah halaman,

Box to Box Living, tren terbaru. Bagaimana dengan Anda ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s